Labels

Pentingnya Berusaha

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Demikianlah doa Nabi Ibrahim alaihissalam ketika meninggalkan isteri dan bayinya. Mereka ditinggalkan di lembah yang tandus dan tak berpenghuni. Sebagai insan biasa, sang isteri yang ditinggalkan yang bernama Siti Hajar, merasakan kesedihan yang amat mendalam. Namun, ia berusaha untuk tabah dan tegar, dengan menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah yang maha kuasa.

Namun tak berapa lama kemudian Siti Hajar kehabisan bekal hidupnya. Bayinya yang diberinama Ismail pun menangis kehausan. Hati siapa yang tak sedih menatap anaknya semakin kencang menangis ketiadaan makanan dan minuman. Lantas ia berusaha mencari air di sekitarnya, hingga mendaki Bukit Safa dan Marwah berulang kali hingga kali ketujuh. 

Ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar suara mengejutkan dari tempat bayinya dibaringkan, sehingga ia menuju ke arah suara itu.  Betapa terkejutnya ia ketika melihat air memancar dari dalam tanah. Air itu kemudian dinamakan air Zam-zam.

Dari kisah itu dapat difahami betapa pentingnya setiap insan bersungguh-sungguh berusaha sendiri, meskipun sudah menyerahkan diri dan yakin akan kekuasaan Allah. Allah akan menolong hamba-hambaNya, laki-laki dan perempuan, yang mau berusaha di mana pun berada.

Pakaian Ihram

“Jauhilah segala kemewahan dan berpenampilan seperti orang asing, pakailah pakaian kaum muslimin dan sederhanalah” (Umar bin Khattab r.a.).

Setiap jamaah Haji atau Umrah yang sedang melakukan ihram, diharuskan memakai pakaian dari kain biasa yang tidak berjahit. Disunatkan yang berwarna putih. Menurut para ulama, ini melambangkan kesederhanaan, kesucian hati dan jiwa, serta rendah hati yang harus ada pada setiap orang beriman dalam hidup di dunia ini. Dengan cara seperti itu, para jamaah memenuhi panggilan Allah.

Secara kuantitas, ratusan ribu orang setiap tahun menunaikan ibadah Haji. Tak sedikit juga yang menunaikan ibadah Umrah. Bila semua orang yang telah menunaikan ibadah Haji dan Umrah mempertahankan cara-cara hidup seperti ini yang dilambangkan dalam pakaian Ihram, maka negeri ini akan makmur, nyaman dan damai. 

Sebab, rata-rata orang, terutama yang terlibat dalam melayani kebutuhan rakyat, akan cenderung hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan dan selalu berusaha mencegah dan mengobati hatinya dari berbagai penyakit hati, seperti angkuh, sombong, dan sejenisnya.

Namun bila diakui secara jujur, tak sedikit orang yang mengabaikan pola hidup sebagaimana dicontohkan ketika berihram. Meskipun sudah memakai pakaian ihram sewaktu melaksanakan ibadah Haji dan Umrah yang bahkan sudah berkali-kali, perilaku tinggi hati dan bermewah-mewahan masih belum lekang dari kehidupan masing-masing. Misalnya, lebih mengagung-agungkan gelar haji ketimbang berperilaku sebagaimana waktu berihram.

Petunjuk Hidup

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. Al Baqarah: 2).

Rasulullah SAW senantiasa akrab dengan Alquran. Bahkan Baginda Nabi senantiasa berdoa kepada Allah agar Alquran menjadi penyejuk hatinya, cahaya di dadanya, dan pelenyap duka dan kesedihannya (HR. Imam Ahmad). 

Sampai-sampai Alquran tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Sehingga sewaktu Aisyah RA ditanya tentang akhlak Rasululllah, beliau mengatakan bahwa akhlaknya (Rasulullah) adalah Al Qur’an” (HR. An Nasa’i).

Sungguh ironis bila ada di antara kita yang di satu sisi mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW, namun di sisi lain menjauhi Alquran. Alquran hanya dijadikan pajangan yang tak memberi makna bagi perbaikan dan kebaikan kehidupan. 

Tidak mau dan tidak mampu dijadikan petunjuk hidup dan obat penenang hati, karena (Alquran) tak mampu dibaca dengan baik.

Padahal Alquran, kalau dibaca, di samping menjadi petunjuk dan obat penenang jiwa, juga akan diberikan pahala yang banyak. Bahkan berpahala, meskipun dibaca hanya satu huruf. Apalagi kalau dibaca satu ayat, satu surah, satu juz, dan bahkan seluruh isi Alquran. 

Belum lagi kalau menghafalnya dan memahami isinya dan bahkan menjadikannya sebagai petunjuk yang menerangi dan memapah kehidupan kita. Yaitu, petunjuk yang, antara lain, membedakan antara yang halal dan haram.

Membantu Sesama Makhluk

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maa`idah: 2).

Manusia setiap hari mendapat bantuan dari makhluk lain.  Seperti lebah atau binatang lain yang membantu perkawinan tumbuhan, sehingga berbunga dan kemudian berkembang menjadi buah-buahan yang sangat penting bagi manusia setiap hari.  

Jelas bahwa binatang-binatang itu bukan hanya bekerja untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk kepentingan tumbuhan dan manusia.

Manusia sepantasnya menyadari diri telah dibantu oleh makhluk lain dalam hidup ini.  Yang lebih penting lagi, merasa malu bila dalam hidup ini hanya berharap bantuan, bukan memberi bantuan. Juga pantas malu bila hanya mampu bekerja untuk diri sendiri, tak mau membantu orang atau makhluk lain. 

Lebih-lebih, manusia punya kelebihan, berupa akal pikiran.  Binatang yang tak diberikan akal saja, bisa dan mau membantu kehidupan manusia.  Bila tidak mau membantu, pantaskah manusia memosisikan dirinya sebagai makhluk yang hebat?   

Namun sayangnya, sebahagian orang bukan hanya tak mau membantu, tetapi juga menambah kesulitan hidup sesama manusia atau makhluk lain. Seperti menghancurkan kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan, yang akhirnya menyebabkan ketidakseimbangan alam.

Mensyukuri Nikmat

“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al Mukminuun: 78).

Apa yang sudah terbiasa dinikmati dan tersedia kapan saja, seringkali menjadi jarang terpikirkan.  Seperti halnya karunia Allah dalam bentuk air, yang jarang dipikirkan kecuali oleh yang membidangi air.  Saat air mau diminum untuk mengobati rasa haus, tak semua orang mau menyempatkan diri menyebut nama Allah sebagai pemberi air, misalnya dengan mengucapkan “bismillah”.  

Begitu juga ketika hilang rasa dahaga setelah meminum air, tak semua insan mau berterimakasih kepada Allah, antara lain dengan mengucapkan “alhamdulillah”.

Padahal “bismillah” dan “alhamdulillah” adalah dua ucapan ringan yang manfaatnya juga besar bagi manusia.  Tak perlu tenaga banyak atau tarikan nafas panjang untuk mengucapkannya. Ucapan-ucapan itu juga yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang mendapat petunjuk selama hidupnya, sehingga mereka selalu menjadi manusia yang senantiasa dalam petunjuk Allah.  

Bila diucapkan dengan tulus, ucapan-ucapan itu akan mengantar pada upaya untuk mengingat Allah.  Hati akan menjadi tenang dan kenikmatan akan terasa bertambah-tambah, sungguh hal-hal yang paling dicari manusia di mana saja meskipun tak tahu memperolehnya.

Selanjutnya akan menjadi manusia yang tak lupa diri, karena selalu sadar terhadap apa yang setiap saat dinikmati.  Dengan adanya kesadaran seperti ini, insya Allah doa yang selalu dimohon agar diberikan kemampuan untuk menempuh jalan hidup sebagaimana yang pernah ditempuh orang-orang beriman, akan didapati.  Karena itu, “Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh Dhuha: 11).

Mengucapkan Bismillah

“Setiap sesuatu yang tidak diawali dengan basmalah, ia akan terputus (dari kebaikan dan berkat) (HR. Ibnu Majah).

Sejatinya, setiap hamba senantiasa mengawali setiap kegiatan dengan menyebut nama Allah. Yaitu mengucapkan “bismillaahirrahmanirrahiim”. Menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang pertanda kita mengingat sekaligus mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap kesempatan. Hal ini akan membawa keuntungan yang banyak bagi hamba yang ikhlas melakukannya.

Allah berjanji akan mendekatkan diriNya lebih dekat lagi kepada hamba-hamba yang mau mendekatkan diri kepadaNya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Jika dia mendekati-Ku sejengkal maka Aku mendekatinya sehasta, jika dia mendekati-Ku dengan berjalan maka Aku mendekatinya dengan berlari” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dengan mendekatkan diri kepada Allah, pertolonganNya akan mudah diperoleh. Sebab, Allah lah yang maha memberikan pertolongan.  Allah, antara lain, bersifat ar-Rahman dan ar-Rahim. Tentunya, sepatutnya kita meminta sesuatu kepada yang memilikinya, yaitu Allah.

Di samping itu, dengan mengucapkan bismillah atau basmalah, kita akan merasa terawasi dalam melakukan suatu pekerjaan, meskipun berada dalam ruang tertutup. Merasa dirinya benar-benar diawasi oleh Allah, siapapun akan berusaha untuk berbuat jujur dan menjauhi diri dari sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah. Kalau tidak, banyak akibat buruk akan terjadi. 

Apalagi setan akan menggoda, mengajak manusia untuk menyeleweng dari jalur yang telah ditetapkan Allah.  Apalagi bila nafsu telah diuasai setan, akan terasa seakan-akan tak ada yang melihat, meskipun sebenarnya Allah Maha Melihat.

Pentingnya Silaturrahim

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. An Nisaa’: 1).

Bila disuruh memilih antara hidup sendiri dan menyendiri di suatu pulau atau hidup bersama, (umumnya) manusia kemungkinan akan memilih pilihan kedua.  Terbukti di mana pun di dunia ini, di wilayah bumi manapun yang dihuni manusia, ke sanalah orang-orang akan datang dan tinggal.  Ini suatu pertanda bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Dalam hidup bermasyarakat, manusia tentunya bersentuhan satu sama lain, mulai dari sentuhan lisan  hingga sentuhan fisik.  Tidak jarang terjadi kesilapan kata atau perbuatan lainnya yang menyebabkan terganggungya silaturrahim. Mengalami hal itu, sebahagian orang begitu mudah memutuskan silaturrahim.  Tak jarang di antaranya hanya karena persoalan kecil.  

Padahal dalam kenyataannya, memutuskan silaturrahim memang mudah dan cepat, tapi menyambungnya susah dan lama. Bukan hanya itu, Allah juga memerintahkan manusia untuk menjaga silaturrahim.  Di samping itu, Rasulullah telah mengingatkan bahwa tidak akan masuk surga orang-orang yang memutus silaturrahim.

Karena itu, kita sepantasnya berpikir berkali-kali sebelum memutuskan silaturrahim.  Apalagi terdapat manfaat ganda bagi manusia, bila menjaga silaturrahim.  Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits: “Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah ia menjaga silaturrahim, niscaya keluarganya akan mencintainya, dilapangkan rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikanNya.”

Kerendahan Hati

Sungguh aku mencintai orang shalih, padahal aku bukan dari kalangan mereka. Aku berharap mendapat syafaat bila bersama mereka nanti. Dan aku membenci mereka yang berbuat maksiat walaupun aku sendiri mungkin dari golongan mereka (Imam Syafi’i).

Rendah tidak berarti hina.  Malah rendah hati berarti mulia.  Seperti Imam Syafii yang sangat terkenal kealiman dan ketaatannya, namun tidak menjadikannya tinggi hati.  Juga tidak pernah mengagung-agungkan dirinya sebagai orang pintar, alim, dan taat.  Serta tidak menampik kalau dirinya juga tak terbebas dari dosa.  Biarlah Allah yang menilainya, sedangkan manusia perlu selalu memohon ampun.  Ini menunjukkan suatu sifat rendah hati dari seorang yang berilmu tinggi.

Sikap seperti ini sangat penting dimiliki oleh setiap hamba Allah di dunia ini.  Apalagi kita tidak tahu pasti berapa banyak ilmu dari Allah yang telah mampu dipelajari, sehingga layak menganggap diri berilmu tinggi.  Kita juga tidak selalu mampu seketat mungkin mengontrol diri dari dosa, terutama dosa kecil, yang kadangkala terjadi.  Apalagi dosa bisa masuk melalui berbagai pintu, mulai dari pintu mata, pintu hati, pintu telinga, pintu kulit, hingga pintu pikiran.

Sifat rendah hati seperti Imam Syafii ini sudah langka terdapat pada orang-orang berilmu di masa kini.  Di zaman materialistis ini, banyak sekali orang mengagung-agungkan diri karena berilmu tinggi.  Karena merasa diri berilmu tinggi, maka menuntut bayaran yang tinggi pula kalau diminta untuk menyampaikan ilmu.  

Karena terperangkap dalam perasaan diri berilmu tinggi, ilmu kadangkala enggan disampaikan kepada orang-orang dari kelas rendah.  Padahal ilmu yang tinggi akan berpeluang mengalami kegagalan dalam menyebarkannya, bila tak memiliki keinginan untuk meraih kemampuan untuk menyampaikan kepada siapa saja dengan cara-cara yang mudah diterima dengan baik.

Membantu Dalam Kebaikan Dan Takwa

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maa`idah: 2).

Manusia setiap hari mendapat bantuan dari makhluk lain.  Seperti lebah atau binatang lain yang membantu perkawinan tumbuhan, sehingga berbunga dan kemudian berkembang menjadi buah-buahan yang sangat penting bagi manusia setiap hari.  

Jelas bahwa binatang-binatang itu bukan hanya bekerja untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk kepentingan tumbuhan dan manusia.

Manusia sepantasnya menyadari diri telah dibantu oleh makhluk lain dalam hidup ini.  Yang lebih penting lagi, merasa malu bila dalam hidup ini hanya berharap bantuan, bukan memberi bantuan. Juga pantas malu bila hanya mampu bekerja untuk diri sendiri, tak mau membantu orang atau makhluk lain. 

Lebih-lebih, manusia punya kelebihan, berupa akal pikiran.  Binatang yang tak diberikan akal saja, bisa dan mau membantu kehidupan manusia.  Bila tidak mau membantu, pantaskah manusia memosisikan dirinya sebagai makhluk yang hebat ?   

Namun sayangnya, sebahagian orang bukan hanya tak mau membantu, tetapi juga menambah kesulitan hidup sesama manusia atau makhluk lain. Seperti menghancurkan kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan, yang akhirnya menyebabkan ketidakseimbangan alam.

Rasulullah Membela Non Muslim

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan benar, supaya kamu menghukum di antara manusia dengan (faham) yang Allah beritahukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi pembela orang-orang yang khianat” (QS. An Nisaa’: 105).

Jika harus memilih antara membela kebenaran atau membela kelompok sendiri, banyak orang sekarang memilih pilihan yang kedua.  Berbeda dengan Rasulullah SAW, yang senantiasa membela kebenaran.  Seperti zamannya pernah terjadi suatu pencurian yang dilakukan seorang Muslim.

Namun, pihak keluarga yang mencuri itu berusaha mengelak dengan menuduh seorang non Muslim sebagai pelakunya.  Untuk itu, mereka mengadukannya kepada Nabi Muhammad SAW dengan harapan akan mendapat pembelaan. Juga berharap Rasulullah membebaskannya dari segala tuduhan dan hukuman.

Namun, Rasulullah SAW tetap berpegang kepada kebenaran.  Yang bersalah, tetap salah, meskipun dari kalangan penganut agamanya. Yang benar tetap benar, meskipun dari kalangan non muslim. Apalagi setelah turun ayat yang menyingkap kejahatan itu.  

Lantas beliau membebaskan orang non muslim itu dari segala tuduhan yang direkayasa itu. Dan, beliau juga benar-benar menghukum pelaku pencurian yang sesungguhnya.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maa'idah : 8)

Merubah Nasib Sendiri

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka “ (QS. Ar Ra’d: 11).

Bila dibandingkan dengan sejumlah negeri lain, negeri kita dianugerahkan sumber alam yang jauh lebih banyak. Tanahnya subur. Cuacanya baik sepanjang tahun. Berbagai macam tanaman dan binatang mudah hidup. Sedangkan sejumlah negeri lain tanahnya banyak tidak subur, bersalju hingga beberapa bulan yang menyebabkan matinya banyak tanaman dan meranggasnya pepohonan, serta menimbulkan kesulitan untuk mencari nafkah.  Tapi mengapa rakyat di negeri kita banyak yang menderita bagaikan ayam yang lapar di lumbung padi? 

Pengalaman hidup menderita seperti ini sepatutnya menantang pikiran kita untuk berpikir kembali tentang pola hidup selama ini.  Jangan-jangan pola hidup sebahagian kita selama ini sifatnya pasif  atau menunggu, meskipun pada saat yang sama berjuta rahmat Allah tersebar di setiap jengkal bumi tempat berpijak.  Tanah yang gembur enggan diolah, sedangkan di sisi lain pola hidup cenderung mengikuti langkah setan: boros.  Waktu yang ada untuk melakukan perbaikan, banyak yang terbuang percuma.

Padahal termasuk tanda orang yang bersyukur ialah bila memanfaatkan segala pemberian Allah pada tempatnya.  Dengan demikian, membiarkan waktu tak terpakai untuk tujuan kebaikan dan membiarkan segala sumber alam tak terolah, juga pertanda orang yang enggan mensyukuri nikmat.

Dalam keadaan demikian, mengharapkan perubahan suatu hal yang mustahil. Hidup ini tak akan berubah, kalau tak berusaha merubahnya sendiri.  Itu janji Allah.  Apalagi Allah sudah menyediakan bahan mentah berupa sumber daya alam, mengaruniai akal untuk berpikir, dan memberi kesempatan untuk berbuat.  Dipakai atau tidak, semua itu harus dipertanggungjawaban kelak, terutama waktu dan pikiran kemana dimanfaatkan.

Mempersiapkan Bekal

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)” (QS. Al-Anbiya: 1).

Dengan sebuatan “lalai”, kita manusia digugah untuk bersegera bangkit.  Yaitu, bangkit mempersiapkan bekal menuju kehidupan abadi di akhirat. Diingini atau tidak, diimani atau tidak, ke sanalah setiap insan sedang menuju.  

Apalagi kematian yang dialami manusia terjadi setiap saat, merupakan bukti nyata sebagai gerbang menuju akhirat. Namun, banyak di antara kita, yang karena alasan kesibukan, tak memberi kesempatan sedikitpun untuk melepaskan diri dari kelalaian.

Padahal lalai bukan hanya terjadi ketika waktu terbuang percuma tak melakukan apa-apa. Juga ketika umur digunakan untuk berbagai kesibukan siang dan malam, namun tidak memberi kontribusi apa-apa bagi kehidupan yang baik di akhirat kelak. 

Dengan kata lain, tidak bernilai ibadah. Termasuk di antaranya, menghabiskan usia untuk menuntut ilmu yang kurang penting, dengan mengabaikan ilmu-ilmu yang penting dan wajib dalam rangka beramal menuju tempat di mana seseorang tidak berdaya memberikan pertolongan sedikitpun kepada orang lain.

Lebih parah lagi tingkat kelalaian yang dialami manusia bila waktu diisi dengan berbagai kejahatan untuk mengejar harta berlimpah.  Padahal hari yang dituju itu samasekali tidak berguna lagi harta.  Yang halal tidak lagi berguna, apalagi harta yang haram yang lelah diperjuangkan bahkan dengan mengorbankan marwah sewaktu di dunia. 

Karena itu, bermanfaat bagi setiap insan merasa diri sedang lalai, sehingga timbul niat untuk segera berbenah diri.  Daripada merasa diri sudah sempurna, sehingga gampang menunjuk orang lain sedang lalai.

Catatan Diri Pada Hari Kiamat

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya” (QS. al-Qiyamah: 13).

Bila satu jam saja merekam diri sendiri, mulai dari apa yang diucapkan atau terucap hingga bagaimana bersikap, maka akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis rekaman itu. Apalagi kalau catatan untuk kehidupan sehari penuh, setahun, dan seumur hidup. 

Sungguh luar biasa manfaatnya bila kita mau membuat catatan kehidupan diri sehari atau seminggu saja. Dari situlah bisa membaca kecenderungan diri sendiri: berapa banyak di antara catatan itu berupa kebaikan, berapa banyak juga berupa keburukan.

Apalagi tak sedikit di antara insan di dunia ini yang tidak mau mengakui catatan-catatan hidupnya sendiri, meskipun sebenarnya itulah yang dilakukan. Biasanya, yang menolaknya adalah catatan memalukan, kejahatan, dan sejenisnya. 

Lihatlah betapa banyak pelaku kejahatan yang berdusta dan bahkan menghabiskan uang sebanyak mungkin menyewa orang yang mau menutupi perilaku buruknya. Memang, sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW, dosa itu membuat hati tidak enak, gelisah, dan malu bila diketahui orang.

Namun demikian, setiap catatan Malaikat tentang kehidupan kita, baik atau buruk, kecil atau besar, dipastikan akan ditampakkan pada Hari Perhitungan kelak. Itulah janji Allah, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah ayat Alquran. 

Allah tidak akan menganiaya sedikitpun dalam membuat perhitungan, walaupun terhadap kebaikan ataupun kejahatan sekecil zarrah yang pernah dilakukan hamba-hambaNya.

Modal Menuju Kemenangan

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103).

Melihat umat yang kadangkala mengalami perpecahan atau bercerai-berai, rata-rata orang merasa sangat prihatin. Pasalnya, persatuan adalah modal menuju kemenangan. Namun, prihatin saja tidak cukup, karena tidak sampai pada tahap menyelesaikan masalah.  Apalagi bila ditelusuri, perpecahan itu mempunyai akar masalah, yang butuh perhatian serius dari umat.

Jika dicermati, akar masalah perpecahan umat terdapat pada pegangan yang salah.  Kini banyak yang berpegang teguh pada kepentingan politik (partai) sesaat. Seakan-akan membela kepentingan politik lebih utama, ketimbang memperjuangkan nilai-nilai lain seperti persatuan dan kebersamaan.  

Sehingga yang berbeda kepentingan politik seringkali dianggap lawan. Yang dianggap lawan juga akan menganggap orang yang menganggapnya demikian sebagai lawan juga.  Sehingga terjadilah permusuhan berkepanjangan, yang selanjutnya menghancurkan modal untuk meraih kemenangan seperti persatuan, kasih sayang, ukhuwah, dan lain-lain.

Akan berbeda keadaan umat jika benar-benar berpegang teguh kepada tali Allah, yaitu agama Islam.  Dalam berbagai suasana, Islam mengutamakan perdamaian, persatuan, persaudaraan, kepedulian, dan kasih sayang.  Sehingga setiap tindakan diupayakan tidak mengganggu keberlangsungan perdamaian dan persatuan umat, misalnya. Bukan sebaliknya.

Berharap Hanya Kepada Allah

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. al-Baqarah: 186).

Hidup akan terasa lebih hidup dan menyenangkan bila memiliki harapan-harapan. Sebaliknya, hidup menjadi hambar tidak bersemangat bila tak punya harapan.  Dan bahkan ada yang ingin segera mengakhiri hidupnya, bila putus harapan atau putus asa.  Kalau mencermati ayat di atas, siapapun kiranya tak pantas merasa putus harapan.

Apalagi Allah senantiasa memberi harapan kepada manusia. Siang malam dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi manusia untuk bermohon kepadaNya. Bagi orang beriman, akan merasa yakin bahwa pada Allah lah sumber segala rezeki. 

Bahkan dijanjikan akan dikabulkan, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh.  Memang ada doa yang tidak atau belum dikabulkan.  Bisa jadi doa itu belum memenuhi syarat untuk dikabulkan. Misalnya, tergopoh-gopoh, asal jadi, makan harta haram, tidak ikhlas, dan sejenisnya.

Juga bisa jadi saat itu doanya sudah memenuhi syarat, tetapi Allah masih ingin menguji sejauhmana hambaNya mampu bertahan dalam ujian. Maksudnya, ujian kesabaran, terutama ketika diuji lewat doanya yang sengaja belum dikabulkan dalam beberapa waktu. Dengan kata lain, kita diajak untuk belajar bersabar.

Bisa jadi juga karena belum membina hubungan baik dengan sesama manusia.  Sebab, tidak jarang, suatu rezeki kadangkala dititipkan melalui mulut atau tangan orang lain. Sedikit kata yang dikeluarkan dari mulut orang lain, tak tertutup kemungkinan menjadi pembuka jalan bagi upaya meraih rezeki.  Apalagi Rasulullah pernah mengingatkan bahwa apabila ingin mendapatkan rezeki, maka tebar salam dan jalin silaturrahim.